Jumat, 17 Mei 2013

Karya Langka Soedibio



Kamajaya Ratih


Pelukis Nunung Bakhtiar dan
karya langka Soedibio


Karya Soedibio yang terbilang langka, Kamajaya Ratih. Pak Dib --demikian ia biasa dipanggil-- kerap menggunakan wayang sebagai obyek lukisannya. Namun untuk Kamajaya Ratih, ia hanya membuat beberapa saja.
Salah satu karya fenomenalnya, Ramayana, dalam ukuran 450 x 250 cm, dikerjakan di Puring Art Studio. Di studio ini Soedibio banyak menghasilkan karya lukisan. Mudah membedakan karya-karyanya yang dibuat disini dengan di tempat lain. Umumnya, lukisan yang berwarna cerah merupakan hasil karya di Puring Art Studio. Konon atmosfier setempatlah yang menyebabkan hal tersebut terjadi.
Lukisan Kamajaya Ratih dalam kondisi 99%, sangat terawat, merupakan koleksi Ibu Rani Soemawinata, Jakarta.




Karya Masterpiece Soedibio

Semar, by Soedibio, oil on canvas


Semar


SEMAR atau Batara Ismoyo karya pelukis Soedibio (alm). Semasa hidupnya, Soedibio kerap mengangkat tokoh Semar sebagai obyek lukisannya. Pada umumnya, lukisan tersebut sudah menjadi koleksi para kolektor, di antaranya Adam Malik. Karya yang ada pada foto di atas merupakan salah satu yang terbaik dari almarhum. 
Selain Semar, Soedibio juga sering mengulang lukisan Dewi Sri yang menggambarkan seorang wanita cantik melayang di atas persawahan. Kendati demikian, bentuk pengulangan itu hampir tidak pernah ada yang sama baik bentuk maupun penyelesaian akhirnya.
Lukisan Soedibio terbilang kerap dipalsukan, namun di mata seorang awam pun pemalsuan itu mudah diketahui. Ini dikarenakan goresan tangan Soedibio terkenal sangat halus, disamping teknik pengerjaannya yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menghasilkan gradasi warna yang tidak umum. (*)  



Kamis, 16 Mei 2013

Kenangan untuk Rita Badai

Casablanca, aku sukai karena helai bunganya yang atraktif
Casablanca Nan Rupawan

CASABLANCA adalah salah satu bunga yang menjadi favorit objek lukisanku. Indah, dan helai-helai bunganya atraktif. Aku banyak melukis bunga ini –termasuk turunannya seperti lily yang berwarna putih, kuning, kehijauan, dan merah.
Lukisan lily putih banyak yang suka, terutama untuk konsumsi di dalam negeri. Namun untuk luar negeri, terutama Eropa, tak banyak yang menyukainya. Konon, lily putih merupakan bunga untuk berkabung.
Lukisan ini sekarang berada di tangan seorang kolektor di Jakarta. Sayangnya, ia tidak berkenan disebutkan namanya. Gagasan melukis karya ini aku peroleh pada saat berada di Pantai Sanur bersama sahabatku dari Jerman, Rita Badai, istri dari Marian Badai.
Rita meninggal dunia dalam eksiden pada akhir April 2013, sekitar dua minggu setelah kita berhubungan lewat telepon. Aku akan selalu mengenangmu, Rita. Tabahlah hatimu Marian. We love both of you.  (*) 

Rabu, 15 Mei 2013

Lukisan Yuleng Ben Tallar




Red Papaya






Elegi Nelayan





Lotus in Love






Masjid Nabawi









Melukis On The Spot di Malang

Menoreh cat ke kanvas di pagi yang sejuk

Melukis 
On The Spot

MELUKIS on the spot adalah kegiatan yang paling aku sukai karena mendatangkan gairah. Selain cepat selesai, idenya juga datang begitu saja. Aku bisa menyelesaikan sebuah lukisan hanya dalam waktu 30 sampai 45 menit.
Seperti yang sedang aku kerjakan ini, di sebuah hunian yang terletak di kota Malang (lokasinya hanya beberapa puluh meter dari tempat dahulu aku dilahirkan). Aku mulai melukis sekitar pukul 08.00, saat mentari memberikan kehangatan di pagi yang sangat sejuk.
Tak sampai empatpuluh menit, aku berhasil menyelesaikan lukisan ini. Dan alhamdulillah, pemilik rumah tertarik karyaku, dan bersedia mengoleksinya.

Ikuti juga blog-ku di http://home.Wanadoo.Nl.nunung

Senin, 13 Mei 2013

Lukisan Kembang

Kuning di Antara Merah
Acrylic on canvas

Kembang yang Atraktif

AKU suka melukis kembang sepatu. Selain warnanya yang dominan, bentuknyapun atraktif. Terlebih kalau ia tertiup angin. Aku bisa melukisnya dengan bermacam bentuk --tentu saja tidak harus sama. Yang aku suka, kalau kembang tersebut terkesan bergerak...
Duh... kembang sepatu, aku cinta kamu...

Pamer Lukisan di Mercure Hotel

Karya lukisku yang terilhami saat berada di New Zealand
(sold)

Terilhami Kota Tua Raglan

APA yang aku pikirkan kerap tertuang begitu saja di atas kanvas yang sedang aku hadapi. Seperti pada saat mengerjakan lukisan ini, yang terbayang suatu pojok di sebuah rumah makan di Raglan, limapuluhan kilometer dari Ngaruawahia, New Zealand. 
Raglan adalah kota tua di tepi lagoon, merupakan daerah wisata yang kerap didatangi turis-turis yang sudah berumur. Mereka tertarik dengan suasana country yang nyaman, termasuk bangunan heritage yang menyisakan arsitektural zaman kolonial. Nah, di dalam bangunan seperti itulah aku menemukan suatu pojok indah --apalagi kalau bukan perabot zaman dahulu kala.
Aku sangat menyayangi lukisan ini untuk waktu yang cukup panjang, sampai akhirnya suatu ketika ada seseorang yang menghendakinya. Dengan berat hati aku lepaskan, terlebih setelah tahu kalau kolektorku benar-benar menyukainya. (*)